Kedua Paslon Saling Lapor, Damai Lebih Baik

 

Rubrik Opini, Pekalongan, 29/9/2024 - Terkait permasalahan konflik antar pendukung Paslon Bupati Pekalongan saat pengambilan nomor urut di depan gedung KPU Pekalongan, yang mana kedua kubu massa pendukung terlibat aksi saling lempar batu, yang mengakibatkan banyak korban luka dan beberapa dilarikan ke Rumah Sakit terdekat guna mendapatkan perawatan medis. 

Kini kedua belah pihak saling lapor Polisi. Dengan detail aduan yang kurang lebih sama, sama-sama terluka dan berdarah serta kedua belah pihak mengalami kerugian material berupa pecahnya kaca mobil akibat lemparan batu. 

Beberapa ahli kesusastraan menanggapi ini bagian dari fenomena dan dinamika perpolitikan. Semestinya hal semacam ini tidak perlu diperpanjang. Pelaporan kepada pihak yang berwajib memanglah tidak disalahkan, namun yang paling penting sekarang bagaimana masyarakat terutama yang merasa dirugikan dari kejadian kisruh tersebut, dapat memahami bahwa ini adalah musibah. 

Di sisi lain, yang mestinya paling bertanggungjawab dari ini semua adalah pemimpin dari masing-masing kubu. Namanya juga musibah, layaknya kecelakaan saat berkendara, siapa sih yang pengen kena cilaka? 

Menurut hemat kami, kejadian ini cukup dijadikan pelajaran saja. Mengapa demikian? Disadari atau tidak, kerusuhan adalah buntut dari arogansi masing-masing kubu. Jadi kalau mau mencari siapa yang harus disalahkan, ya jawabannya ada pada diri kita masing-masing. 

Mengapa kita sebagai pendukung paslon mesti tersulut emosi demi membela idola kita masing-masing? Bukankah kita semua bersaudara? Sesama warga Kabupaten Pekalongan sebaiknya tetaplah menjalin persatuan. Tiada guna pula kita perpanjang masalah ini yang kemudian makin mengerucutkan konflik yang memicu dendam berkepanjangan. 

Kita punya idola masing-masing, namun perlu diingat! Siapapun yang kita dukung sejatinya mereka adalah putra putri terbaik dari daerah kita. Kalau salah satu dari mereka kemudian menjabat, pun kita akan kembali kepada aktivitas kita masing-masing. 

Toh nyatanya, kalau kita tidak kembali ke rutinitas kita siapa yang akan menanggung beban kehidupan kita? Banyak pertanyaan yang sebenarnya kita sudah tau jawabannya. 

Pertanyaan terpenting, mengapa kita terbakar ambisi dan angkara murka demi membela eksistensi calon pimpinan terpilih kedepannya? Jangan-jangan kita sudah terbius oleh bujukan setan untuk melakukan hal yang sia-sia seperti membuat kerusakan pada kejadian kemarin itu. 

Okelah kita punya kepentingan masing-masing, namun perlu diingat! Janganlah terlalu dalam membenci atau mencintai, sebab bisa jadi apa yang kamu benci justru itu baik untukmu dan belum tentu apa yang terlalu kita cinta itu sudah pasti baik untuk diri kita. 

Sebaiknya sewajarnya saja dalam membenci sesuatu atau seseorang. Sebaliknya, sewajarnya pula dalam mencinta. Karena yang terlalu itu tidak baik kawan! 

So, marilah kita bergandeng tangan dan berjabat tangan selesaikan perkara yang pernah terjadi dengan cara yang ma'ruf. Berdamailah, salih asih satu sama lain. Damai adalah jalan tengah, bermaafan adalah solusi terbaik saat ini. Toh juga kedua belah pihak sama-sama merugi atas kerusuhan kemarin! Ya kan! 

Buat apa diperpanjang masalahnya, hanya menambah kedengkian dan kemudharatan saja. Kalau ada pertanyaan, kalau di damai doang nanti yang mau ganti rugi siapa? Lho, kalian ke lokasi tersebut yang nyuruh siapa. Lah itu dia orang yang harus menanggung keselamatan kalian. Siap ngajak ya siap bertanggungjawab. 

Intinya kedua Paslon wajib memikirkan dampak atas kerumunan yang terjadi entah itu dampak positif maupun negatifnya. Saya yakin kedua paslon pasti punya uang kalau cuma buat menyantuni alias ganti rugi bagi penyandang kerugian itu. 

Tinggal bagaimana semua pihak yang terlibat menjadi dewasa dalam menyikapi perkara yang ada! Lain halnya kalau yang dirugikan sepihak, silahkan kejar sampai dapat kompensasi. Namun ini adalah musibah, siapapun tidak berharap atas kejadian kemelut kemarin itu. 

Sama-sama mobilnya rusak, sama-sama berdarah harus berobat dan rugi waktu karena harus bed rest. Yasudah masing-masing introspeksi diri dan obati diri, ganti kaca mobil sendiri-sendiri. 

Opini ini dibuat hanya untuk wacana dan saran semata, selebihnya kami kembalikan pada individu masing-masing. Selesaikan dengan hati yang lapang, jiwa yang dewasa dan logis. Sekian, semoga bermanfaat! 

Handono Warih


Pemimpin Redaksi

Infokota.online

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Riswadi Tekankan Pentingnya Melestarikan Budaya Jawa

ASISTEN TSUNADE DIANGKUT KE MARKAS PUSAT AVENGER, JADI TUKANG CUCI PIRING